sharing a piece of personal and appearing as a sportsblog
Kamis, 11 Juni 2015
Nagatomo: Saya Ingin Bertahan di Inter
Rabu, 10 Juni 2015
That's All I Can Say
" He is a fantastic communicator. He manages to keep the players happy, even the ones that aren't playing every week. He has a clear philosophy when it comes to how he wants his team to perform. In my eyes he is a very complete coach, considering his tactical and human qualities."
-Gerhard Tremmel , Swansea Goalkeeper (2011-2015), commenting about the manager who brought him to English football, Brendan Rodgers.
well, Glen Johnson probably won't be agree with Tremmel's comment on how Mr.Rodgers rotate the squad. But wait, in case you missed it, there were one of LFC squad member that always happy even though he does not having much minutes on the pitch or manages to score a goal, Mario Balotelli.
click here for the complete interview of transfermarkt.co.uk with Gerhard Tremmel
Selasa, 09 Juni 2015
Teppanyaki
mbak lindswell, yang saya idolakan, terima kasih atas persembahan dua emasnya di SEA Games. Kapan kita makan teppanyaki bareng? tadi udah coba makan sendiri, rasanya ada yang kurang mbak.
Solo, 9 Juni
Senin, 08 Juni 2015
Thanks for The Great Weekend Istora!
As a sportsfan, it's such a joy to be able to watch world class athletes compete in a world class tournament. Supporting those who represent Indonesia and others who perform magnificently to claim victory. Salam Olahraga!
Minggu, 07 Juni 2015
Tiongkok Bawa Pulang Dua Gelar dari Istora
Sejarah bulutangkis dunia, kembali terukir di Istora Senayan, Jakarta. Babak final kejuaraan Indonesia Open Super Series Premier (SSP) usai digelar, dan telah menghasilkan juara di masing-masing nomor. Turnamen dengan hadiah terbesar musim ini, dengan total US$ 850.000, ditutup dengan cukup meriah.
Diawali pada sektor ganda campuran, pasangan asal Tiongkok, Xu Chen/Ma Jin mengalahkan rekan senegara mereka Zhang Nan/Zhao Yunlei. Pasangan unggulan kedua turnamen tersebut menunjukkan kesolidan dan pengalaman mereka untuk menang dua set langsung 21-17, 21-16.
Pada nomor berikut, tampil salah satu favorit Istora, Ratchanok Intanon. Pebulutangkis asal Thailand tersebut tampil menghadapi lawannya asal Jepang, Yui Hashimoto. Intanon tampil mendominasi dan berhasil unggul atas Hashimoto dalam dua set langsung, 21-10, 21-11.
Partai ketiga adalah salah satu yang paling intens dan mengejutkan. Unggulan sekaligus juara bertahan asal Denmark, Jan O Jorgensen ditantang pemain tunggal putra asal Jepang, Kento Momota. Jorgensen yang mendapat dukungan penonton Istora, tampil baik saat menuntaskan set pertama dengan keunggulan 21-16.
Di set kedua, angin Istora mulai berhembus mendekati Momota, beberapa kali Jorgensen mendapat peringatan dari umpire pertandingan karena gagal mengontrol emosi dengan keputusan hakim garis di lapangan. Memanfaatkan kelengahan sang lawan, Momota berhasil mencuri poin penting dan menang 21-19.
Set terakhir, seolah menjadi periode antiklimaks Jorgensen dalam turnamen tahun ini. Kesulitan mengontrol permainan dan berakhir melakukan kesalahan sendiri, membuatnya harus kehilangan gelar yang ia raih musim lalu. Sorak gembira penonton Istora, yang sejak akhir set kedua ganti mendukung Momota, membuncah ketika jagoan Jepang mampu menyelesaikan permainan dengan skor 21-16.
Pada partai keempat, tampil ganda putri tuan rumah, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari. Penampilan yang paling ditunggu oleh penonton ini ternyata berlangsung tanpa ada drama. Menantang pasangan asal Tiongkok, Tang Jinhua/Tian Qing, yang juga menggusur mereka di turnamen Australia Terbuka Super Series dua minggu lalu, Greysia/Nitya seolah kehabisan bensin.
Beban kelelahan akibat selalu bermain tiga set semenjak babak awal turnamen rupanya mencapai batasnya di final. Kehilangan momentum semenjak interval set pertama dan gagal membangun irama permainan sendiri di set berikut, mengharuskan mereka kalah 21-11, 21-10. Indonesia pun nirgelar pada turnamen edisi tahun ini.
Sebagai penutup, masih ada pertandingan seru antara ganda putra asal Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol yang menghadapi pasangan asal Tiongkok, Fu Haifeng/Zhang Nan. Penampilan kelas dunia diperlihatkan kedua pasangan di laga tersebut. Sung Hyun/Baek Cheol sukses merebut set pertama dengan 21-16, sebelum Fu/Zhang membalas di set kedua juga dengan keunggulan 21-16.
Pada set ketiga, laga berlangsung ketat, namun juara dunia 2014, Sung Hyun/Baek Cheol secara dramatis memperoleh keunggulan saat poin kritis. Mereka meraih gelar juara dengan merngakhiri set ketiga dengan skor 21-19. Ini adalah gelar pertama bagi pasangan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol pada tahun ini.
Sabtu, 06 Juni 2015
Sepi
Istora sudah lengang, tinggal kami dan sejumlah warga nordik mendukung sang juara bertahan. Besok keramaian akan kembali, tapi mungkin tak akan seperti sore tadi.
Jumat, 05 Juni 2015
Febe dan Keajaiban di Istora
Ketika layar televisi usai menyiarkan kemenangan ganda putra Moh.Ahsan/Hendra Setiawan, gemuruh dukungan Istora Senyan masih mengalir bagi wakil Indonesia lain di lapangan tiga. Babak perempatfinal Indonesia Open Super Series Premier(SSP), Jumat (5/6), mempertemukan Maria Febe Kusumastuti melawan wakil Jepang Yui Hashimoto.
Febe tampil menggila di set pertama, hingga mampu unggul jauh saat interval. Set pertama berkesudahan 21-16 untuk keunggulan Febe. Ia tampil begitu baik dan menawan untuk ukuran pemain yang bahkan sudah tak dilirik pelatnas Cipayung. Beberapa penonton bahkan lebih mendukungnya ketimbang Lindaweni Fanetri yang dibantai Ratchanook Inthanon, 21-7, 21-6.
Namun, drama pertandingan Hashimoto dan Febe baru saja dimulai. Tetiba saja tim medis menghampiri Febe, ia nampak mengeluh seketika pula tim medis mencoba melihat kondisi lutut pemain asal klub Djarum tersebut. Set kedua pun seolah berjalan tak seimbang. Hashimoto tanpa ampun memberi banyak smes menyilang kepada Febe yang sudah nampak sulit menggerakkan lutut kanannya. Namun, beberapa kali ia menampilkan pengembalian bola yang cukup "ajaib" hingga membuat Hashimoto pun terkejut. Pada kedudukan 21-16, kali ini untuk keunggulan Yui Hashimoto, set kedua pun usai.
Pada babak penentuan permainan inilah puncak gemuruh Istora berawal. Febe memang sudah tak mampu berlari secara gesit untuk mengembalikan sejumlah bola menyilang dari Hashimoto namun ia mampu memimpin usai interval, bahkan dengan selisih 5 poin!. Pada kedudukan Febe unggul 16-13, ia berusaha mengembalikan netting Hashimoto, dengan sekuat tenaga tersisa, sayang pengembaliannya gagal dan ia terjungkal hingga penonton yang dekat dengan lapangan tiga berdiri terkejut.
Bangkit dan kembali ke permainan, semuanya seolah kembali imbang. Kedua pemain beradu teknik secara maksimal. Hashimoto masih mengandalkan bola menyilang mengekspos cedera Febe. Tapi, pemain putri asli Boyolali memvuat sejumlah jumping smash yang membuat lawannya tak berkutik. Febe secara mengejutkan sempat unggul dan meraih match point!. Berhentikah disitu? belum. Lagi, Febe harus jatuh di lapangan saat mencoba mengantisipasi bola serangan Hashimoto, ia sudah tak mampu membendungnya. Hashimoto pun mengambil set ketiga 22-20. Sekaligus lolos ke semifinal Indonesia Open SSP.
Gemuruh dukungan bagi seorang pemain yang berulang kali terjungkal saat berjuang membuncah dari berbagai sektor dalam Istora. Febe membalas dengan melambaikan salam, saya termasuk ke dalam kelompok penonton yang membalas lambaian tersebut dengan standing ovation. Meski gagal ke semifinal, Maria Febe Kusumastuti kamu pahlawan Istora kami pada hari Jumat ini. Bravo!